Berita

“Pustakawan Jangan Terjebak Rutinitas di Belakang Meja”

2014-04-23 14:50:39 » » Umum

Laporan oleh: Hera Khaerani

[Unpad.ac.id, 16/07] Jika harus menjelaskan pekerjaan seorang pustakawan, tentu benak kita dengan mudah berkelana pada bayangan orang-orang yang bekerja di belakang meja, yang tugasnya melayani di perpustakaan. Pencatatan buku atau dokumen yang dipinjam dan dikembalikan, adalah hal lainnya yang biasa kita saksikan.

Namun menurut Yulianti, salah seorang pustakawan di Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad, pemikiran demikian tak sepenuhnya tepat. Meski sebagian besar waktunya dialokasikan untuk pelayanan, sebenarnya pustakawan juga memiliki kewajiban tridharma perguruan tinggi yang meliputi penelitian, pengajaran, dan pengabdian.

Pemahaman tentang peran pustakawan yang sesungguhnya itu masih perlu diperjuangkan, dan salah satu pejuangan yang ditempuh Yulianti adalah dengan mengikuti berbagai ajang pemilihan pustakawan berprestasi di tanah air. Perempuan yang satu ini memang gemar menulis dan tergolong aktif memanfaatkan teknologi internet untuk mencari informasi tentang berbagai lomba kepenulisan maupun terkait pustakawan. Prestasi terakhir yang diraih ibu yang akrab dipaggil Yuli ini adalah menjadi Juara Harapan 1 dalam Pemilihan Pustakawan Berprestasi Terbaik Tingkat Provinsi Jawa Barat 2010.

Yuli mengungkap, “Motivasi yang terdalam saya itu orientasinya bukan uang atau tenar, jadi lebih ke perjuangan eksistensi.”

Dalam kesempatan di tingkat Jabar kali itu, ia turut menekankan pendapatnya tentang perlunya kedua bentuk darma perguruan tinggi yang lain untuk disentuh. Sayang, setelah proses yang panjang dari mulai penyeleksian di tingkat fakultas, universitas, dan kemudian Jabar itu tidak berlanjut ke tingkat nasional, karena hanya juara satu dari pemilihan pustakawan berpestasi tingkat daerah atau provinsi saja yang bisa berlaga di tingkat nasional.

Meskipun begitu, Yuli mengaku sangat senang. “Alhamdulillah, jadi Fikom bisa berkibar tidak hanya di fakultas ataupun Unpad melainkan juga di Jabar,” tuturnya.

Dari pemilihan tersebut ia berhasil membawa pulang piala dan sejumlah uang tunai. Namun ada manfaat lain melebihi materi yang diperolehnya dari mengikuti kegiatan semacam itu, yakni mendapat jaringan perkenalan yang lebih luas, terlebih orang-orang dengan minat yang sama.

Berbicara tentang pekerjaannya di Fikom Unpad, ibu yang sedang mengandung anak ketiganya itu mengaku bersyukur karena ditempatkan di Fikom. “Jadi infomasi terkini tentang keilmuan pepustakaan dapat duluan. Kemudian juga bisa kontak dengan ahli-ahlinya langsung”

Sejak bekerja sebagai pustakawan Fikom, Yuli dan rekan-rekannya sering mengevaluasi pelayanan mereka dan tak jarang melakukan terobosan. Biasanya perubahan yang dilakukan harus disertai riset terlebih dahulu agar apa yang dilakukan bisa sesuai dengan kebuhan pengunjung perpustakaan. Di antaranya adalah dengan diubahnya sistem akses terbuka menjadi akses tertutup.

Dengan sistem tertutup, pengunjung tidak bisa langsung mengambil buku ke rak. Para staf perpustakaan akan membantu mengambilkan buku yang dicari setelah dipastikan buku tersebut memang sedang ada di perpustakaan. Keunggulan dari sistem akses tertutup ini di antaranya buku selalu rapi dan relatif tidak cepat rusak. Sementara kekurangannya adalah staf lebih letih karena membantu mengambilkan buku yang dicari mahasiswa, perlu lebih banyak komputer untuk pencarian buku dari katalog online, dan menutup kemungkinan mahasiswa untuk secara kebetulan menemukan buku yang menarik bagi mereka.

Sikap tetap produktif dan inovatif yang ditunjukkan oleh Yulianti ini patut ditiru oleh pustakawan lainnya. Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Komunitas Taman Bacaan (Kitab) Kabupaten Bandung ini sudah menulis sebanyak dua belas karya tulis ilmiah. Ia juga merupakan pendiri dan Pembina TBM Istiqomah di Cicalengka dan saat ini mengaku masih berambisi untuk sama-sama mengajak pustakawan lainnya untuk bangun, tidak terbatas pada pelayanan tapi juga pada penelitian dan pengajaran.

Ditanyai tentang terobosan lain yang mungkin sedang digagasnya, Yuli menceritakan tentang upaya literasi informasi untuk mahasiswa baru. “Kalau terlaksana, ini akan jadi yang pertama di Unpad,” jelasnya.

Literasi informasi sendiri merupakan kemampuan mengelola infomasi, termasuk di dalamnya kemampuan mencari informasi yang dibutuhkan, menyimpan, memanfaatkan, bahkan mengevaluasi informasi yang telah dikumpulkan. Diakui oleh Yuli ide-ide inovatif yang dilahirkan di bidangnya merupakan hasil kerja sama seluruh tim, baik pustakawan, staf, maupun pihak-pihak terkait lainnya. (eh)*

Sumber Berita:
http://news.unpad.ac.id/?p=29639